Pages

Showing posts with label Cerita. Show all posts
Showing posts with label Cerita. Show all posts

Saturday, November 10, 2012

Aku Perempuan

Ya Allah, yang telah menciptakan aku sebagai perempuan.
Yang telah menjadikan aku sebagai seorang yang istimewa. Yang telah membuat bahuku cukup kuat untuk menopang dunia. Namun juga telah menciptakannya begitu lembut hingga cukup untuk memberikan kehangatan dan rasa nyaman. Yang memberikan kekerasan untuk membuatku tetap tegar ketika orang-orang lain menyerah. Yang telah memberiku kepekaan sehingga mampu mencintai. Yang telah memberiku kekuatan sehingga mampu mendukung teman-temanku. Yang telah memberikan kebijaksanaan untuk menghadapi kehidupan. Yang telah memberiku air mata untuk menghapus kesedihan.

Aku perempuan.
Entah cukup kuat atau tidak untuk memimpin. Entah cukup bijak atau tidak untuk memimpin. Entah cukup memberikan rasa nyaman atau tidak untuk memimpin. Entah cukup tegar atau tidak untuk memimpin. Entah cukup mencintai atau tidak untuk memimpin.

Namun, sekali lagi aku perempuan...
Yang mudah rapuh ketika sedikit saja tersenggol, yang mudah berteriak ketika ada sedikit saja gelap, yang mudah meleleh ketika sedikit saja panas

Namun, sekali lagi aku perempuan...
Yang tahu kalau dirinya rapuh, dan hanya bisa mencari kekuatan-kekuatan yang bisa digapainya.



Many nights we've prayed
With no proof anyone could hear
In our hearts a hopeful song
We barely understood

Now we are not afraid

Although we know there's much to fear
We were moving mountains long
Before we knew we could

There can be miracles, when you believe

Though hope is frail, it's hard to kill
Who knows what miracles you can achieve
When you believe, somehow you will
You will when you believe

In this time of fear

When prayers so often prove in vain
Hope seems like the summer birds
So swiftly flown away

Yet now I'm standing here

My heart's so full I can't explain
Seeking faith and speaking words
I never thought I'd say
There can be miracles, when you believe
Though hope is frail, it's hard to kill
Who knows what miracles you can achieve
When you believe, somehow you will
You will when you believe

They don't always happen when you ask

And it's easy to give in to your fears

But when your blinded by your pain
Can't see your way straight through the rain
A small but still, resilient voice
Says love is very near

You will when you believe

Just believe


Entahlah, mendengar lagu ini rasanya saya percaya sekali saya kuat.
Janji Allah juga dalam Al-Quran sudah disebutkan, "Sesungguhnya sesudah kesulitan pasti ada kemudahan." (QS.Al-Insyirah)

Semoga saya kuat. Semoga saya kuat. Semoga saya kuat. Keep Fighting :D

Monday, October 8, 2012

Leoni, Ratu Sejagad

Cukup cantik.
Leoni mengenakan gaun pestanya. Manik-manik yang mengkilap membuatnya tambah percaya diri. Ia menatap lagi parasnya di cermin. Dengan jari telunjuknya ia meratakan kembali bedak di atas hidungnya. Rasa deg-degan di hatinya semakin menjadi-jadi.
Hari ini hari pemilihan Ratu Sejagad. Leoni berada di belakang layar menunggu namanya dipanggil oleh pembawa acara. Ia membayangkan dirinya berdiri di atas panggung megah yang sekelilingnya penonton sibuk mengambil gambarnya. Ah, sebentar lagi tiba gilirannya.
"Woi, jangan melamun terus!" seru Nita, mengagetkannya. Satu, dua, tiga, ia membuka mata. Masih di depan cerminnya. Masih dengan gaunnya. Masih dengan wajahnya yang cantik. "Kamu harus fokus, sebentar lagi kamu dipanggil sama pembawa acara untuk menuju panggung. Tunjukkin kebolehanmu. Jangan melamun terus!" lanjut Nita lagi.
"Idih, siapa coba yang melamun!" tanggap Leoni sewot.
"Lah.. Jelas-jelas kamu tadi melamun!" jawab Nita.
"Ih, enggak ya. Aku cuma membayangkan nanti kalau aku dipanggil pembawa acara, terus aku berjalan di panggung.....," tutur Leoni, senyam-senyum."Semua mata pasti tertuju padaku. Teruss.. orang-orang pada sibuk fotoin aku. Jepreet-jeprreeett, gitu. Terus aku bakal mempesona banget malam ini, Nit! Oh, senengnyaaaaa!" sorak Leoni heboh. Nita mencibir.
"Heh, kalo kamu terlalu sibuk ngehayal, nanti kamu jadi nggak konsentrasi. Udah deh, yang penting kamu siapin diri baik-baik untuk kontes Ratu Sejagad ini, oke. Jangan kebanyakan ngelantur!" sahut aNita menanggapi. Leoni tidak mengindahkan. Ia sibuk membayangkan lagi kemungkinan kemungkinan yang akan terjadi ketika nanti dirinya naik ke atas panggung kontes.

Tak lama kemudian,
"Dan peserta selanjutnya adalah Leoni! Beri tepuk tangan!" seru Pembawa Acara. Leoni belum menyadari kalau dirinya sudah dipanggil.
"Heh, nyet. Udah dipanggil tuh!" sahut Nita, mengagetkan Leoni.
"Eh-oh, iya, Nit. Aduh, deg-degan jadinya," kata Leoni polos. Nita menaikkan alisnya. Sahabatnya ini memang hobi menghayalkan hal-hal yang tidak penting.
"Ya sana. Jangan melamun aja. Nanti didiskualifikasi sukurin!" sembur Nita. Leoni merapikan gaunnya.
"Oke, doakan Nit. Doakan aku!"
"Iya, udah sana!" sahut Nita, melepas sahabatnya menuju panggung kontes.

Leoni keluar dari balik layar. Ia menatap seluruh penonton yang hadir. Tepuk tangan ramai menyambut dirinya.
"Aduh, berasa miss universe nih!"
Leoni pun melangkah dengan mantap. Dan seperti dugaannya, cahaya kamera yang memotretnya pun kelap-kelip di sana-sini. "Tuh kan, jadi berasa Ratu beneran nih, hihihi,"



Ketika ia selesai menyanyikan lagu. Ia meninggalkan panggung dengan tangan melambaikan tangan ke penonton. Ia berjalan santai tanpa rasa deg-degan. Tepuk tangan riuh melepasnya hingga menghilang di balik layar.
"Nitaaaaaa! Ya ampun, gue berasa miss universe tauuukk. Seneng bangeeett!" sorak Leoni. Ketika ia Nita menemuinya di meja rias.
"Ih, apaan sih lo. Norak tauk. Jadi gimana? Gue denger tadi kamu bagus juga nyanyinya," tanggap Nita santai.
"Ahh, pokoknya malam ini keren banget Nit, keren bangeett!!!" ia berseru sambil melonjak-lonjak. Tapi, sepatu haknya sepertinya tidak kuat menopang tubuhnya hingga ia terpeleset jatuh.

Brakkkkk!!
"LEOONIII!! Udah dibilangin kalau tidur jangan di kursi goyang!" ujar Mama dari dapur. "Jatuh lagi, jatuh lagi!"
"Iya, Ma. Maaf,"

Batal jadi ratu sejagad deh gue.

Thursday, July 5, 2012

Awkward

Rasanya seperti teman baikku diambil..
Seperti dia membuang sesuatu, lalu ku ambil, ku pelihara, ku jaga, hingga suatu hari aku kasihkan lagi untuknya, namun kemudian ia membuangnya lagi. Kemudian aku pungut lagi, ku pelihara, aku jaga, hingga suatu hari aku kembalikan lagi kepadanya. Namun ia membuangnya lagi.


Bagaimanapun, aku seperti kehilangan teman baik...
Aku tak siap kehilangan
Sungguh,
Aku tidak pernah siap untuk kehilangan...

Wednesday, July 4, 2012

Nasi Komando

Aku menyukai momen ini.. :D
Ketika aku sama Corry jalan santai di depan, sambil ngobrol-ngobrol, dia bernostalgia tentang PDT dan aku mendengarkannya. Aku memikul beban yang rasanya pengen tak buang, yaitu tas berisi patok-patok, tali, jas hujan, jaket, dsb. Tapi aku santai aja, soalnya Corry juga santai. Tiba-tiba dari belakang... "Corry! Suzash! Kalian tuh jalannya jangan cepet-cepet!!!" tiba-tiba ada yang teriak dari belakang. Langkah kami berhenti, menoleh ke belakang bersamaan. Di sana Tika sama Alifah susah payah jalan. Muka mereka merah. Ajeng sama Rina juga gitu. Syahrul di belakang.
"Kalian tuh langkahnya puanjang-puanjang... !" Tika berseru agak sebel gimana gitu. 
"Iya-iya, kita pelan-pelan wess,"
...
Aku juga suka momen ini.
"Sekarang, tutup mata kalian pakai slayer MSC!" suara Kak Fityat yang lantang langsung dipatuhi oleh seluruh peserta pelantikan Bantara Mayoga 2012.
"Baris pertama maju satu langkah, jalan!" Baris pertama maju satu langkah, termasuk aku.
"Baris kedua mundur satu langkah, jalan!" Kemudian, entahlah, mungkin mereka mundur selangkah juga.
Hening. Terdengar kericuhan kecil rasanya di belakang punggungku. Semoga baik-baik sajalah. Kami yang sedang diistirahatkan mendengar aba-aba siap. Kami segera menaati.
"Balik kanan, grak!"
Hening.
"Sekarang buka slayer kalian!" Kami membuka slayer dan... yah, .. "Dihadapan kalian sekarang ada nasi.  Nasi komando. Silahkan dihabiskan!"
Hamparan nasi di atas daun pisang, entah apa yang ada di sana. Aku sudah tak sanggup membayangkan. Setelah diperintahkan duduk, kami lalu diperintahkan makan dalam waktu lima menit.
"Satu!" Kami siap-siap berdoa. "Dua!" Kami berdo'a. "Tiga!" Kami berkata, "SELAMAT MAKAN!"
Lalu citarasa tidak enak pun mampir di lidah kami. Suara-suarapun berlintasan di telingaku. 'Laper kan, dek? Dihabisin ya!'. 'Ehm.. enak! Kurang apa coba, makan udah disiapin, udah dimasakin, tinggal makan,'. 'Di luar sana masih banyak dek yang kekurangan makan, makan beruntung banget kalian tinggal makan!'
..
Ah, kalau aku boleh mengumpat aku akan mengumpat..
"Dua menit lagi!!" Padahal demi apapun, itu belum ada tiga menit! -_- 
Tangan-tangan kami lalu menyambar nasi-nasi itu sebisa kami dan memasukkan -lebih tepatnya menjejalkan- ke mulut kami. Mengunyah sebisa kami mengunyah. Yuck! Rasa daun pepaya langsung masuk ke tenggorokan. Yakin demi apa ini daun pepaya direbus doang. Tidak dibumbui apa-apa. Subhanallah, pahit sekali rasanya. Namun, di saat-saat seperti ini bukanlah saat untuk mengeluhkan rasa daun pepaya itu. Cari mati saja.
"Waktu habis! Tangan semuanya diatas!!" suara itu begitu enek aku dengarkan. Ini belum ada lima menit! Aku berani bertaruh seribu telur! -dosa deng-
Senter dihiidupkan. Sisa-sisa makanan kita disorot,"Apa itu?? Masih banyak sisanya!! Kalian itu, sudah diberi waktu, bla..blaaa.. blaaa.. blaaa..!"
"Jadi gimana nih, satu butir satu seri ya, Kak Fityat!" ujar Kak Manas. Wow, wow, wow, apa-apaan..! Kami mendengus. Harusnya kami menyadari sejak awal akan seperti ini.
"Lalu gimana?! Kalian sudah dikasih waktu lho.. tidak dimanfaatkan dengan baik,". Kami makin mendengus. "Gimana ada yang punya solusi?" Kami diam. Kakak-kakaknya gemar berceloteh. Biarlah... Tapi kemudian.. "Yo ambalannya ikut makan bareng sini!" Hasan Tuqa, peserta Bantara putra berceletuk.
"Gimana kak Fityat?" tanya Kak Manas dengan suara yang dibuat-buat. Hening, kami denar suara kaki Kak Fityat mendekat. Suaranya kemudian terdengar, "Kalian kira kami menyuruh kalian makan seperti ini kami belum makan? Kami sudah makan! Saksinya Kak Fauzi!"

Dalam hati aku mengumpat pelan.

"Sekarang tak kasih waktu dua menit! Harus habis!" Alhasil, kami makan lagi -menjejalkan- makanan tidak jelas itu ke dalam mulut kami. Aku lihat wajah Alin, yang kebetulan ada di depanku, seperti orang menahan muntah. Vivi juga. Vivi di dekatku mati-matian menahan pahitnya daun pepaya itu.

"Tiga...Dua...Satu! Waktu habis! Tangan semua di atas!!" Senter di sorot ke daun pisang depan kami. Kosong. Bersih.
Akhirnya habis jugaaaa.... :D
Momen ini unyu banget pokoknya! Nasi Komando is nice moment! :)

Kisah Kakak, Adik, dan Kotak Pensil Kayu

Aku cinta perdamaian..
Dari hati yang paling dalam aku katakan aku cinta perdamaian...

Ah,
Alih-alih meminta maaf, gadis cantik itu memang sengaja meninggalkan adiknya yang parau, memunguti sisa-sisa kotak pensil kayu kakaknya yang patah. Adik kecil itu hanya terdiam, mendengarkan suara risau kakaknya yang tampak uring-uringan. Dengan sabar ia memunguti satu persatu patahan yang tersisa. 
Ditengoknya kakak tercintanya dibalik tirai ruangan itu. Di balik tembok itu kakaknya tertidur. Mungkin ia lelah, pikir adik kecil itu. Ia melangkahkan kakinya ke kamar itu, pelan-pelan. Ia sangat menjaga agar sang kakak tak terbangun oleh langkah-langkah kecilnya. Tangan mungilnya mengambil selimut tebal kakaknya di ujung tempat tidur. Dibenarkan posisi tangan kakaknya, kemudian dijembrangkannya kain tebal itu, hingga menutupi tubuh sang kakak. Sang kakak yang lelah, terlelap dalam tidur yang indah.
"Semoga Allah menghapus lelahnya hari ini," ucapnya. Ia melangkah keluar. Mematikan lampu, dan menutup tirai kamar kakaknya itu.
Di ruangannya...
Adik kecil itu belum merebahkan diri di atas tempat tidurnya. Ia masih berkutat dengan kotak pensil kakaknya yang patah. Ia telaten mengelem patahan demi patahannya. Menelateni hingga patahan itu kuat dan tidak copot lagi dari bagiannya yang lain.
...
"Kak, ini sudah adik betulkan," kata adik kecil itu takut takut kepada kakaknya. Kakaknya melirik ke arah adiknya. Masih tak berani menatap, sang adik mengulurkan tempat pensilnya.
"Iya, terimakasih ya,"
Hembusan nafas sang adik lega. Kakak tercintanya tidak marah. Sore itu mendadak menjadi indah.
...
"Kenapa bisa rusak lagi, Kak?" tanya sang adik lemas. Ditemuinya kotak pensil kayu kakaknya itu berantakan. Hendak dibuang kakaknya ke tempat sampah depan rumah. Sang adik menyipitkan matanya. Kakaknya berhenti.
"Sudah seperti ini, lebih baik dibuang saja," tutur Sang Kakak masa bodoh. Sang adik menggeleng. Menahan air matanya keluar. 
"Sini, adik benerin lagi aja.. Jangan dibuang, ya, Kak.." pintanya. Sang Kakak hanya mengangguk. Menyerahkan kotak pensil kayu kepada adiknya. Sang adik segera berlari mendekap kotak pensil itu. Membawanya menuju kamar, meletakkannya di meja, menyalakan lampu belajarnya, melempar tasnya, dan cepat-cepat mengelem bagian-bagian dari kotak pensil itu yang patah.
...
"Kak, ini sudah benar lagi kotak pensilnya," ujar sang adik penuh senyum kepada kakaknya. Sang Kakak tersenyum menerima lagi kotak pensil itu. Sang adik merasa lega. Senyum kakaknya adalah senyum termanis yang pernah ditemuinya. Ia lega. Ia rela. Ia begitu menyayangi kotak pensil itu, kotak pensil kakaknya. Dan ia akan membantu mempertahankan kepemilikan kotak pensil itu di tangan sang kakak.
...
Suatu sore, sang adik pulang dari tempat belajarnya. Ia menemukan sepatu kakaknya di teras. Senyum tersungging di bibirnya. Kakak sudah pulang, pikirnya. Ia ingin menemui sang kakak di dalam rumah. Mendadak, ia terbelalak. Kotak pensil kayu milik kakaknya, yang disayanginya sepenuh hatinya, hancur, di dalam tempat sampah hijau itu. Berkeping-keping. Bercampur dengan sampah-sampah yang lain. Kotak pensilnya sudah menjadi sampah! Seakan sama seperti tempat sampah yang lain!
Demi apapun, ini benar-benar menyakitkan. Ia yang rela serela-relanya merelakan waktunya untuk membetulkan patahan-patahannya, sia-sia. Kotak pensil itu akhirnya dibuang begitu saja oleh sang Kakak.
...
Kini sang adik dihadapkan pada dua pilihan, ia akan menuruti kesakit hatiannya pada sang kakak, atau tetap menjaga, mengedepankan perasaan sayangnya pada sang kakak...
...
Islam memerintahkan untuk menahan marah, bukan untuk menyimpan marah.
Wa sulhu khair... :)

Sunday, July 1, 2012

Madre dan Perahu Kertas

Buku itu tergeletak, di dalam lemariku. Tak ku sentuh. Entah kenapa ia bisa bertengger di situ.

Madre.
Goresan Dewi Lestari ini menarik perhatianku untuk sementara. Waktuku akan terbuang kalau aku tidak melakukan sesuatu yang bermanfaat. Dan membaca buku itu masuk kriteria kegiatan yang bermanfaat daripada duduk smsan -_-".
Buku itu milik Poppy. Yang mungkin tidak sengaja tertinggal di kamar ini waktu dia pindahan ke kost barunya.

Madre


Menceritakan seorang laki-laki yang jauh-jauh datang dari Bali ke kota yang paling tidak dia inginkan untuk di datangi, Jakarta. Ia datang jauh-jauh ke sana demi seorang kakek yang tidak ia kenal sama sekali mewarisinya sebuah harta tak ternilai.
Namun secara tak terduga, dalam satu hari itu -hari dimana kakek tua itu dimakamkan-, sejarah kehidupan dan garis keturunannya berubah seketika. Ia merasa garis hidupnya digerecoki oleh seseorang yang bahkan sama sekali tidak ia kenal. Lalu tiba-tiba seseorang itu datang, mengubah semua kehidupannya dengan mewarisinya sebuah adonan yang diberi nama : Madre.

"Apa rasanya jika sejarah kita berubah dalam sehari? Darah saya mendadak seperempat Tionghoa, Nenek saya seorang penjual roti, dan dia bersama seseorang yang tidak saya kenal, mewariskan anggota keluarga baru yang tidak pernah saya tahu : Madre."


Demi apapun, aku baru sadar kalau buku ini keren. Khususnya cerita tentang Madre. Hebatnya Dewi Lestari bisa menuliskan sebuah kisah wonderfull seperti itu. Aku terlambat. Aku memang sudah waktunya untuk harus rajin membaca buku lagi.
Baca buku ini teman-teman. Benar-benar keren sekali, untuk para pecinta novel. Dan aku juga bisa merekomendasikan bacaan lain seperti

Perahu Kertas


Namanya Kugy. Mungil, penghayal, dan berantakan.
Dari benaknya mengalir untaian dongeng indah.
Keenan belum pernah bertemu manusia seaneh itu.
...
Namanya Keenan. Cerdas, artistik, dan penuh kejutan.
Dari tangannya mewujud lukisan-lukisan magis.
Kugy belum pernah bertemu manusia seajaib itu.
...
Dan kini mereka berhadapan dengan hamparan misteri dan rintangan
Akankah dongeng dan lukisan itu bersatu?
Akankah hati dan impian mereka bertemu?


Selamat Membaca! :")

Thursday, June 28, 2012

Hari Ini #2

"Allah masih sayang terhadapku, akankah aku mengkhianatinya untuk kesekian kali?"


Aku bersyukur sekali untuk rapor kali ini. Sangat bersyukur. Semua memang diluar kemampuanku. Semua kuasa Allah. Aku tidak percaya menatap nilai-nilaiku. Aku tak percaya mellihat peringkatku. Aku tak percaya. Tapi, aku bangunkan diriku sekali lagi. Aku benar-benar bangun. Bukan mimpi.
Peringkatku naik cukup banyak. Dan kembali lagi itu karena Allah yang memudahkan. Jikalau aku dikasih sedikit saja rasa tidak nyaman di hidung, hingga sering bersin-bersin, maka aku tidak akan lancar mengikuti ujian. Aku tidak akan lancar belajar. Alhamdulillah, Allah masih memberikan aku kemudahan, walaupun tak dipungkiri, aku masih sering ingkar terhadapNya.

Alhamdulillah, ku serahkan segenap sujudku dan segenap hatiku untuk Allah. Aku tidak akan membuatNya murka lagi. Allah masih mencintai aku. Masih memberi aku kesempatan untuk memperbaiki penghambaanku padaNya.

Wednesday, June 27, 2012

Hari Ini

Aku lelah sekali hari ini...
Kau tahu, dalam seminggu ini aku sudah mengikuti dua perkemahan sekaligus. Rasa lelah memang ada, aku tak menutupinya. Aku lelah. Aku capek. Aku ingin istirahat.

Kemah Pelantikan Bantara memang cukup menguras tenaga. Akan ku ceritakan pengalaman berhargaku ketika kemah pelantikan bantara. Tapi tidak sekarang. Aku sedang urung. Suasana hatiku sedang tidak menentu.

Aku lelah. Iya. Aku lelah.
Namun aku seperti tidak ingin tidur. Aku tidak ingin tidur malam ini. Kalau aku tidur, aku akan merasakan pagi cepat tiba. Dan aku sangat berdebar untuk menanti esok hari. Besok terima rapor semester dua. Aku sangat berdebar. Entah mengapa. Aku mengkhawatirkan banyak hal. Aku menakutkan banyak kemungkinan yang akan terjadi. Sejujurnya aku belum siap. Sejujurnya aku belum siap...

Tapi apa daya,
Aku hanya bisa berpegang teguh pada tiang Allah..
Berharap yang terbaik. Itu saja. Tidak lebih.

Semoga hasil yang kita terima besok, menjadi koreksi kita ke depannya. Aku ingin meninggalkan yang ini. Dan berdiri, bersiap berlari untuk berusaha mencapai pembuktian yang aku targetkan.
Semangat :)

Friday, June 1, 2012

DIPULANGKAN! -_-

Rabu, 30 Mei 2012
Selamat pagi!
                Selamat menikmati Rabu Pagi yang indah seperti biasanya. Matahari yang cerah, tas sekolah yang ringan, sepatu santai, kaos kaki bukan putih, dan pelajaran yang menyenangkan… Bayangkan jam pertama PPMB, dilanjutkan sama Bahasa Jawa, habis itu ada Conversation, dan yang terakhir hadir Seni Rupa sebagai penutup yang sempurna untuk hari Rabu yang indah.
                Aku sudah menyukai hari Rabu sejak aku ada di kelas sepuluh ini. Hari rabu sangat indah. Sangat indah. Kata-kata itu melekat, dan sering ku ucapkan ke semua orang. Aku menyukai hari Rabu. AKU SUKA HARI RABU POKOKNYAAAA!!!
                Tapi entah mengapa, hari ini tidak. Rabu ini parah. Jam pertama PPMB diganti dengan dua jam Geografi. Pelajaran menyebalkan dan menyebalkan dan menyebalkan.. pokoknya amat menyebalkan… Entah apa yang menyebabkan Geografi terlihat begitu menyebalkan, entah gurunya, atau apanya.. aku juga tidak tahu.
                Mungkin moodku pada hari Rabu sudah rusak, sehingga hari ini berantakan juga. Pertama, aku sudah tidak enak badan. Aku agak pusing. Capek. Lalu aku bangun nyetrika baju, lalu melihat sampah yang berantakan. Sial. Hari ini hari piketku. Terbayang sudah susahnya membuang sampah yang menumpuk itu. Arrgghh.. -,-
                Tambah lagi, kenapa antrian mandi hari ini jadi ruwet sekali. Lamaa sekali. Aku sudah tidak enak di rasa. Ada yang nggak beres. Berantakan. Pagi ini berantakaaaaan.
                Aku keluar dari kamar mandi pukul tujuh tepat. Bel sudah berbunyi. Teman-teman berhamburan keluar. Buru-buru. Aku sudah kagol. Aku keluar dengan tempo langkah kaki seperti biasa. Tidak ku percepat. Rasanya sudah malas.
                Anna alam juga baru keluar dari kamar mandi, aku mau bareng dia saja berangkatnya. Aku benar-benar sudah malas dengan hari ini. Hari ini ku cemburui dengan hari Rabu yang lain. Ku bandingkan dengan Rabu-Rabu indah yang lain. –Arrggh-
                Mana sarapannya tak kunjung datang! Hei, kita ini harus makan sebelum berangkat sekolah. Bukan pas berangkat. Kalau makan datangnya waktu bel masuk, siapa yang mau makan pagi???
Aku sebal. Akhirnya di situ masih ada Mbak Fiya, Mbak Arina, Mbak Lia, dan –tentu saja- Anna Alam. Dan akhirnya kita keluar dari asrama setelah Asma’ul Husna selesai dikumandangkan. Bu Rita sudah berdiri di ambang pintu masuk.  Pak Dul juga. *Haduh-haduh-haduh*. Bu Rita dengan sigap meraih handel pintu masuk, lalu "Braakkk!" Tidaaaaaaaakkk. Bagaimana nasib kami.

Pintu ditutup. Oke..

                Kami berbalik halauan, rame-rame lewat depan. Tapiii... We O We bangett!! Bu Rita sudah  menghadang di pintu loby. "Mau ngapain?" ujar Bu Rita, galak coy. Serem pokoknya. Terus siapa gitu njawab gini, "Mau masuk kelas, Bu." Haha. Tanpa dosa banget, ya? "Lewat piket!" perintah Bu Rita. Akhirnya kami berbalik ke pintu masuk, lewat piket. *meninggal di tempat*.  Bu Toni menghadang, "Ini kenpa anak-anakku, sing ayu-ayu, kok yo terlambat? Rumahnya jauh to?" Mak jleb sekali. Yahh, kami dapat ceramah dadakan. Berbagai pembelaan keluar dari mulut kami. Tapi, toh hasilnya sama saja. Habislah kita semua. Padahal Mbak Fiya ada ulangan TIK, Mbak Arina ada ulangan Kimia, dan aku sama Anna walaupun tanpa ulangan, dipulangkan dengan hormat. Kata Bu Toni, TIDAK ADA DISPENSASI! *Kejamnyaaa..*  
                Dan di situ rame banget. Ada Emi juga, ada Siti, ada Mas Yoga, ada Mbak Annisa, ada Mbak Ayuk, dan jadilah kita orang-orang telat ini dipulangkan ke habitat masing-masing. Sesuatu. Akhirnya, kita pulang dengan kikuk ke asrama. Aku sudah tidak enak dengan Ummi. Tidak enak. Ummi pasti jadi sasaran guru-guru. Ummi bakal menanggung malu juga. Aku janji Ummi, ini yang pertama dan terakhir.
                Oke, dan kita sekarang di sini. Di kamar ‘Aisyah, -kamar Mbak Fiya dan Anna Alam-, berhadapan dengan laptop masing-masing. Menuliskan pengalaman pertama kita dipulangkan. Really Something. Tak akan pernah ku lupakan seumur hidupku.

Rasanya hidupku sempurna. Dipuji karena datang pagi banget sudah pernah. Tapi telat sampai dipulangkan juga pernah. Haha.. Allah itu kalau membuat cerita memang wonderfull banget. Alhamdulillah Ya Allah . . .

Teko disyukuri wae

Saturday, May 19, 2012

Belum Sepersepuluh Cinta Ibu




"Rasa sayang, cinta kasih, pengorbanan, dan segala yang dilakukan ibumu yang sudah engkau ketahui, sejatinya belumlah sepersepuluhnya..."


Bukan semata-mata penghormatan semata kepada wanita yang dielu-elukan dimana-mana. Tulisan-tulisan itu sebenarnya tidak perlu ada. Segala omong kosong tentang ibu sebenarnya tidak perlu ditulis lagi di dunia ini, kalau hasilnya sama saja.

Sadarlah,
Kenyataan ibumu menggendongmu ketika kau menangis, kenyataan beliau selalu bangun malam ketika kau berteriak terisak kehausan, kenyataan dia mengelus-elus kepalamu dengan sayang ketika kau hendak tidur, kenyataan beliau mengobati sakitmu ketika kau terbaring, kenyataan beliau selalu bangun pagi hanya agar kau bisa makan dahulu sebelum berangkat ke sekolah, kenyataan beliau harus mencuci pakaianmu dan kau hanya tahu pakaian kotor dilempar dan tau tau sudah siap di lemari. Kenyataan bahwa beliau selalu makan terakhir hanya agar kau makan dulu. Kenyataan bahwa beliau selalu memberikan pelukan terhangat ketika kau jatuh, dan masih banyak kenyataan kenyataan lain dan itu belum sepersepuluh dari pengorbanan swanita hebat itu...

Sadarlah...
Bahwa laki-laki yang tak menghormati perempuan, sama saja ia tak menghormati ibunya.

Wednesday, May 2, 2012

Kertas Ini Untuk Alin

Sebuah jiwa cerah berjalan dalam bungkusan raga yang riang, di bawah langit mendung Senin ini. Ia berjalan ringan melintasi setapak demi setapak beton di bawah kakinya. Langit yang mendung Senin itu, tidak menjadikannya mendung jua hari ini. Ia tetap menjadi jiwa paling cerah yang muncul di depan mataku ini.
            Aku dengar lagi dentum demi dentum langkahnya. Ringan sekali. Seakan tak ada beban yang diletakkan di atas kakinya. Atau jangan-jangan ia punya beban diam-diam, tapi lalu menyimpannya, dan aku saja yang tidak mengetahuinya. Hhh, entahlah . . .  Dia penuh tanda tanya tapi selalu cerah setiap harinya.
            Dia menentukan pilihan untuk duduk di dekatku hari ini. Segenap kecerahan yang dibawanya menulariku untuk hidup juga.
            Dan Afida Maulina Zahra pun tersusun dalam rangkaian huruf dalam raganya. Seumur hidup rangkaian nama itu akan menemaninya sampai nanti, entah kapan… Aku berkaca pada oase jiwanya yang cerah, tanpa pernah ingin tahu sisi gelap dari jiwa tersebut. Bagiku, oase jiwanya akan tetap selalu cerah J


            Alin, semoga kamu tetep unyu tiap hari ya J

Thursday, April 26, 2012

Terimakasih Telah Menerimaku

   Peluhku masih sepeti ini.

Padahal kicau burung pagi tadi begitu riang, namun entah mengapa ia tidak berhasil membuat mataku seriang itu. Mataku sendu. Lelah aku dengan semua yang aku jalani. Bukan karena aku merasa bosan, aku hanya merasa . . yah, seperti ini. Tidak teratur.

Rasanya aku ingin mendinginkan diri sejenak. Pengen berlutut di bawah shower, dan showernya diputer maksimal. Dan aku nangis di bawahnya. *Kayak di film-film*.

Tapi tidak seperti itu nyatanya. Aku hanya ingin sendiri dulu. Aku hanya ingin sendiri. Aku ingin merenungi kehidupanku sekarang ini. Mengapa menjadi seberantakan ini, mengapa bisa menjadi tidak teratur seperti ini. Biarlah aku evaluasi dulu. Biarkan aku sendiri dulu.

Ya Allah, hamba rindu pada-Mu... Aku merasa jauuuuuhhhh sekali. Aku merasa jauh. Aku tidak dekat lagi. Aku tidak ingin jauh lagi Ya Allah,.

Terimakasih tak berujung ku berikan pada-Mu Sang Maha Pencipta nyawa, terimakasih telah menerimaku walau di fajar yang kelam, begitu aku membuka mata, aku sudah membuat-Mu kecewa. Terimakasih telah menerimaku walau di siang yang terik, aku semaki membuatmu amarah-Mu kalap. Terimakasih telah menerimaku walau di senja yang temaram, aku sudah tak berbentuk lagi, kotor serupa-rupa. Terimakasih telah menerimaku walau di malam yang gelap, aku sudah bernoda dan kotor serupa-rupa tebal. Terimakasih telah menerimaku walaupun dalam tidurku, dercak-dercak itu tak dapat ku kikis.

Dekatkan aku dengan-Mu lagi Ya Allah, aku sangat merindukan kedekatan-Mu di hati ini . . . ;__;

Monday, April 2, 2012

De Dumdas

Ini kutipan favoritku sama Mbak Triana :
Diambil dari novel Marmut Merah Jambu, karya Raditya Dika



“Pada akhirnya orang yang jatuh cinta diam diam hanya bisa mendoakan. Mereka hanya bisa mendoakan setelah capek berharap. Pengharapan yang ada dari dulu, yang tumbuh dari mulai kecil sekali, hingga makin lama makin besar lalu semakin lama semakin jauh. Orang yang jatuh cinta diam-diam pada akhirnya menerima. Orang yang jatuh cinta diam-diam paham bahwa kenyataan terkadang tidak sama dengan apa yang kita inginkan. Terkadang yang yang kita inginkan bisa jadi sesungguhnya tidak kita butuhkan. Dan sebenarnya, yang kita butuhkan hanyalah merelakan. Orang yang jatuh cinta diam-diam hanya bisa, seperti yang biasa mereka lakukan, jatuh cinta sendirian.”

Saturday, March 17, 2012

No Body Perfect

 

Buku ini menarik. Aku rekomendasikan kalian untuk membaca buku ini :D
Sudah lama saya 'koar-koar' ke teman-teman lain untuk membaca buku ini, tapi belum ada yang mau. Ya sudahlah, dimana-mana kan promosi enggak maksa. Hahaha :D

Buku ini sebenernya sederhana kok. Ceritanya diambil dari kisah seseorang. Menurutku, si penulis mengembangkan apa yang sudah ia tulis, alias mengembangkan dari buku hariannya. Bahasanya ringan, dan mudah dicerna. Lucu. Tapi ini remaja banget. Bagi yang masih anak-anak, boleh kok boleh baca buku ini. Tapi, ambil pelajarannya yaaa... :D

Salah satu goresan dari Citra Dewi Garini ini ada yang menarik. Aku lupa goresan ke berapa. Yang jelas cerita ini berinti satu : No Body Perfect. Sebenarnya, dari tadi aku udah googling untuk sinopsis cerita ini, tapi engga ada :'( sedih banget. Ya sudah, ini sinopsis ala kadarnya saja dari aku

Meggy, cewek SMA berumur 16 tahun. Bisa dikatakan dia hampir sempurna. Gurunya tidak pernah mengoreksi ulangan matematikanya. Meggy terlalu sering mendapatkan nilai seratus dan tidak ada kesalahan sekecil apapun di pekerjaannya. Hal itu membuat gurunya tidak pernah sekalipun meragukan tugas-tugasnya. Namun, Meggy tidak pernah menyombongkan diri dengan apa yang didapatnya itu. Ia bangga, sangat bangga akan dirinya. Namun ia tetap rendah hati terhadap semua orang. Membuat orang-orang semakin mengagumi sosoknya.

Namun suatu hari, datanglah sosok Arias. Arias yang merupakan murid pindahan, terlalu kuat untuk menjadi saingan Meggy. Teman-teman Meggy yang hampir yakin tidak orang seperti Meggy, memupuskan perkira-kiraan mereka. Arias datang, mempesona mereka dengan, apa yang mereka sebut kesempurnaan.

Meggy menerima itu dengan lapang dada. Ia meyakinkan dirinya bahwa ia bukanlah manusia yang sempurna. Bukan. Ini hanya kelebihan yang ia punya. Hanya sebatas kelebihan yang ia punya. Ia menerima bahwa ia tak lagi yang dipuji teman-temannya, bukan ia lagi idola seluruh guru di sekolahnya.

Semua serba Arias. Nilai tertinggi diraih Arias, perwakilan Olimpiade tingkat Pusat diwakili Arias, juara Olimpiade direbut Arias, piala tertinggi dibawa pulang Arias, dan tepuk tangan itu, -yang biasanya riuh untuknya-, berpindah untuk Arias. Meggy menerima. Semua. Arias benar-benar terlihat sempurna dengan apa yang sudah ia miliki saat ini.

Sampai suatu ketika,
Arias sudah masuk di Universitas impian semua orang bersama Meggy , dan salah satu teman mereka, sebut saja Soni, -saya lupa namanya, hehe-.

Meggy masuk kampus idaman itu dengan nilai memuaskan, dia menduduki peringkat keenam dari entah berapa ratus mahasiswa yang diterima di Universitas itu. Dan Arias baru mengetahui hasil ujian masuknya beberapa hari setelah ospek.

Arias, yang sudah terbiasa berada di peringkat pertama, untuk pertama kalinya ia merasa kalah. Ia menduduki peringkat kedua. KEDUA. Posisi yang tidak pernah ia duduki sebelumnya. Ia merasa kalah. Yang lebih membuatnya merasa kalah adalah nilai total nya dengan si peringkat pertama adalah selisih 0,1 point saja. Sangat tidak berarti. Dan Arias tambah shock ketika ia tahu siapa si peringkat pertama itu, Yaitu Soni, sahabat Arias sendiri.

Merasa dikalahkan, Arias menganiaya dan memukuli Soni sampai tidak karuan. Soni babak belur. Soni hancur sehancur-hancurnya. Arias kemudian ditangkap dan dipenjara karena kasus penganiayaan. Ironis sekali, kawan. Di penjara, Arias depresi dan yaa, akhirnya ia mengalami gangguan jiwa.

Tragis bukan?
Ini cerita yang, wow, bagiku. Semua orang dilahirkan dalam keadaan bersih, namun ia tetap tidak bisa menjadi sempurna. Manusia semulia Nabi Muhammad SAW saja masih melakukan kesalahan yang membuat Allah menegur beliau. Apalagi manusia biasa, manusia biasa seperti kita. Tidak mungkin sempurna. Kesempurnaan hanya milik Allah. Tidak ada yang bisa memiliki sebuah kesempurnaan.

Bahkan kau bisa lihat sendiri kan?
Orang yang sudah terbiasa dengan kesempurnaan, akan jatuh. Suatu saat nanti pasti akan jatuh. Orang yang terbiasa dengan kesempurnaan harus sadar, kehidupan ini seperti roda yang berputar. Kita harus menerima, kadang kita berada di atas, kadang kita berada di bawah. Tidak selamanya kita berada di atas. Tidak selamanya.

Oke kawan?
NO BODY PERFECT. *catat ini baik-baik*

I'm Proud to be Myself


Aku menulis ini dengan kesadaran penuh.

Aku bangga dengan apa yang aku punya. Allah sudah mendesign diriku sedemikian rupa bukan untuk aku kecewakan. Aku bersyukur atas apa yang Allah kasih untukku.
Aku bangga,
Walaupun aku tidak mendapat nilai 9 dalam semua ulanganku

Tapi aku bangga
Aku mengerjakannya dengan kemampuanku sendiri
Dengan usaha ku mengingat dan menuangkan apa yang selama ini aku dapatkan
Dengan usahaku belajar selama ini

Aku bangga,
Setidaknya aku sekolah bukan hanya untuk main game,
Setidaknya aku berangkat ke sekolah berniat untuk belajar
Setidaknya aku sekolah, bukan semata mata duduk dan mendengarkan
Karena aku punya tujuan

Aku bangga
Walaupun aku masih mencari
Walaupun aku masih mencari kebanggaan atas diriku sendiri
Walaupun aku masih menjadi yang standar
Walaupun aku masih
seperti ini

Aku bangga
Aku bangga aku merasa bosan dengan diriku yang standar
Aku bangga aku merasa muak dengan sebuah kemampuan standar
yang semua orang juga bisa melakukannya

Karena itu artinya
Ada bara api yang menyala
sedikit, namun membesar, di dalam diri ini
Keinginan untuk mencari, apa itu yang disebut dengan kebanggaan

Aku akan mencari
Aku akan terus mencari