Ingat Allah :)
Jaga akhlakmu. Jaga bicaramu. Jaga pandanganmu dengan ikhwan. atur amarahmu. Taatlah kepada orangtua dan gurumu. Tarik senyuman untuk saudaramu. Berbagilah apa yang kau miliki dengan teman yang membutuhkan. Berhemat dan jangan kau hamburkan uang ayahmu karena kau belum bisa cari uang sendiri. Tabung untuk masa depanmu. Istimewakan waktu secara khusus untuk berbincang dengan Allah, bukannya menyisakan. Semoga dengan demikian kau termasuk orang-orang yang disayang Allah.
Pages
Ini hanya tentang cerita
Showing posts with label Quotes. Show all posts
Showing posts with label Quotes. Show all posts
Sunday, January 26, 2014
Saturday, June 29, 2013
To Love You More
Take me back in the arms I love
Need me like you did before
Touch me once again
And remember when
There was no one that you wanted more
Don't go you know you will break my heart
She won't love you like I will
I'm the one who'll stay
When she walks away
And you know I'll be standing here still
I'll be waiting for you
Here inside my heart
I'm the one who wants to love you more
You will see I can give you
Everything you need
Let me be the one to love you more
See me as if you never knew
Hold me so you can't let go
Just believe in me
I will make you see
All the things that your heart needs to know
I'll be waiting for you
Here inside my heart
I'm the one who wants to love you more
You will see I can give you
Everything you need
Let me be the one to love you more
And some way all the love that we had can be saved
Whatever it takes we'll find a way
I'll be waiting for you
Here inside my heart
I'm the one who wants to love you more
You will see I can give you
Everything you need
Let me be the one to love you more
Celine Dion-To Love You More
Labels:
Quotes
Saturday, June 15, 2013
Bayang-Bayang
“Waktu berjalan ke barat di waktu pagi hari matahari mengikutiku di belakang.
Aku berjalan mengikuti bayang-bayangku sendiri yang memanjang di depan.
Aku dan matahari tidak bertengkar tentang siapa di antara kami yang telah menciptakan bayang-bayang,
aku dan bayang-bayang tidak bertengkar tentang siapa di antara kami yang harus berjalan di depan.”
Aku berjalan mengikuti bayang-bayangku sendiri yang memanjang di depan.
Aku dan matahari tidak bertengkar tentang siapa di antara kami yang telah menciptakan bayang-bayang,
aku dan bayang-bayang tidak bertengkar tentang siapa di antara kami yang harus berjalan di depan.”
Labels:
Quotes
Sunday, September 16, 2012
So Sweet :)
Hari ini, 16 September 2012
Sorak-sorai suara di panggung itu bising sekali. Menggambarkan keramaian yang sangat riuh. Tenda-tenda didirikan di sekeliling lapangan untuk stan flea market. Satu tenda besar di tengah lapangan basket itu menjadi panggungnya. Panggung menghadap ke Selatan. Sebelah kiri panggung berdiri stan Faculty Fair yang diisi oleh beberapa fakultas dari beberapa Universitas. Di sebelah kanan panggung berdiri stan-stan flea market atau apalah itu namanya.
Aku ada di situ. Di tengah-tengah keramaian anak-anak yang mempromosikan dagangan kelas mereka masing-masing. Riuh suara sound system membuat telingaku sedikit berdengung. Di tengah-tengah keramaian itu, aku mencoba untuk menarik orang berkunjung ke stan kelasku, agar mereka tertarik untuk membeli salah satu dari dagangan kami.
Tak terasa adzan dzuhur berkumandang. Sound system berhenti mengeluarkan dengungnya sejenak. Ah, dan waktu itu aku melihat dan mendengar pemandangan yang menurutku itu so sweet sekali..
Dia memang punya banyak teman dekat. Tapi yang tidak ku sangka-sangka adalah ini, :
"Sarah, Sarah!!! Temen-temen mana?" tanyanya. Ia berteriak keras namun tetap duduk manis di kursinya.
"Pada nyebar, ada yang di sana, ada yang di sana!" orang yang bernama Sarah itu menunjuk dua arah.
"Udah pada sholat belum?"
"Beloommmm..."
"Temen-temen suruh pada ke sini, Sar! Suruh pada sholat dzuhur. Sekarang!" teriaknya lagi.
"Iyaaa. Aku panggilin dulu yaa!"
Jleg banget. Itu bukan suruhan. Itu adalah sebuah... apa ya? Mungkin itu adalah peringatan seorang teman kepada teman yang lain agar tidak meninggalkan sholat. Itu sama sekali bukan sebuah suruhan. Aku yang mendengar, merasa bahwa itu adalah peringatan seorang teman kepada teman yang lain dengan penuh sayang. Iya, penuh sayang. Aku menangkap itu di suaranya, yang bahkan tidak pernah ku tangkap ketika ada teman asrama yang berteriak-teriak menyuruhku sholat, siapapun itu.
Aku tertegun, ternyata pertemanan mereka seerat itu. Pertemanan mereka yang dulu aku remehkan. Ternyata mereka kompak lahir batin, dunia akhirat. Ya Allah...
Aku juga menyadari sebuah hal beberapa waktu lalu, ketika aku berbincang-bincang dengan temanku itu. Dia mengajakku untuk sholat dhuha di masjid sekolah. Tapi aku berkilah, aku bilang padanya bahwa aku tidak membawa mukena.
"Di atas pasti ada yang bawa wes," katanya menenangkan. "Nanti pinjem aja... Biasanya temen-temenku bawa. Oiya! Pinjem Erna itu lho. Dia lagi nggak sholat. Tapi biasanya dia selalu bawa, kok. Kata dia males ngeluarin dari tas," lanjutnya. Aku tertegun kali. Dia menghafal dan mengenal teman-temannya dengan baik.
Pernah suatu hari, aku merasa haus sekali. Aku setengah berlari memasuki kelas dan menyambar botol minumku di atas meja. Aku menegaknya hingga hausku terasa tinggal setitik.
"Suzaaasssh, duduk Zash!" tegurnya halus.
"Eh-oh, iyaaa," jawabku kikuk. Aku malu padanya, juga malu pada diriku sendiri. Aku lupa diri. Bahkan adab minum dengan duduk yang seharusnya aku jaga sampai saat ini tidak ku hiraukan. Ternyata masih ada orang baik di muka bumi ini yang mau memperingatkan aku dari akhlak tidak baik itu.
Ada juga kejadian seperti ini...
"Ayo sholat!" ajaknya setelah bel istirahat kedua berbunyi. Aku menggeleng pelan. Sepertinya ia paham dengan maksud gelenganku. Ia akhirnya keluar dengan Kikan, teman sekelasku yang lain, yang kebetulan ingin ke atas juga. "Ya udah, aku sholat dulu yaaa,"
Dia dan Kikan menuju masjid yang letaknya di lantai atas. Sementara aku keluar kelas. Aku membuka permen loli ku yang ku beli di kantin sebagai kembalian beli pulpen. Tiba-tiba ada suara memanggil, "Suzaaaassssh!!!". Aku menoleh, leherku mendongak ke atas untuk melihat siapa yang memanggil. Ternyata dia.
"Ada apaa?" sahutku.
"Permennya itu lhoooo!" teriaknya, sambil tangannya memperagakan orang makan permen loli. Aku terhenyak,"Iyaaa, lupa. Peace!" candaku. Akupun berlalu. Namun permen loliku masih di tangan. Tidak berani ku masukkan mulut karena aku belum menemukan tempat duduk. Untuk kesekian kalinya aku diingatkan. Tapi kali ini akan ku ingat, makan atau minum alangkah lebih baiknya kalau kita melakukannya sambil duduk, tidak berdiri atau bahkan jalan.
Ahh, sekali lagi. Allah tidak pernah salah mempertemukan kita dengan orang-orang yang kita kenal sekarang. Aku selalu bersyukur ketika Allah mempertemukan aku dengan orang yang baru, yang nanti pasti, entah secara langsung atau tidak, akan memberikan pelajaran hidup yang bisa kita petik :)
Sorak-sorai suara di panggung itu bising sekali. Menggambarkan keramaian yang sangat riuh. Tenda-tenda didirikan di sekeliling lapangan untuk stan flea market. Satu tenda besar di tengah lapangan basket itu menjadi panggungnya. Panggung menghadap ke Selatan. Sebelah kiri panggung berdiri stan Faculty Fair yang diisi oleh beberapa fakultas dari beberapa Universitas. Di sebelah kanan panggung berdiri stan-stan flea market atau apalah itu namanya.
Aku ada di situ. Di tengah-tengah keramaian anak-anak yang mempromosikan dagangan kelas mereka masing-masing. Riuh suara sound system membuat telingaku sedikit berdengung. Di tengah-tengah keramaian itu, aku mencoba untuk menarik orang berkunjung ke stan kelasku, agar mereka tertarik untuk membeli salah satu dari dagangan kami.
Tak terasa adzan dzuhur berkumandang. Sound system berhenti mengeluarkan dengungnya sejenak. Ah, dan waktu itu aku melihat dan mendengar pemandangan yang menurutku itu so sweet sekali..
Dia memang punya banyak teman dekat. Tapi yang tidak ku sangka-sangka adalah ini, :
"Sarah, Sarah!!! Temen-temen mana?" tanyanya. Ia berteriak keras namun tetap duduk manis di kursinya.
"Pada nyebar, ada yang di sana, ada yang di sana!" orang yang bernama Sarah itu menunjuk dua arah.
"Udah pada sholat belum?"
"Beloommmm..."
"Temen-temen suruh pada ke sini, Sar! Suruh pada sholat dzuhur. Sekarang!" teriaknya lagi.
"Iyaaa. Aku panggilin dulu yaa!"
Jleg banget. Itu bukan suruhan. Itu adalah sebuah... apa ya? Mungkin itu adalah peringatan seorang teman kepada teman yang lain agar tidak meninggalkan sholat. Itu sama sekali bukan sebuah suruhan. Aku yang mendengar, merasa bahwa itu adalah peringatan seorang teman kepada teman yang lain dengan penuh sayang. Iya, penuh sayang. Aku menangkap itu di suaranya, yang bahkan tidak pernah ku tangkap ketika ada teman asrama yang berteriak-teriak menyuruhku sholat, siapapun itu.
Aku tertegun, ternyata pertemanan mereka seerat itu. Pertemanan mereka yang dulu aku remehkan. Ternyata mereka kompak lahir batin, dunia akhirat. Ya Allah...
Aku juga menyadari sebuah hal beberapa waktu lalu, ketika aku berbincang-bincang dengan temanku itu. Dia mengajakku untuk sholat dhuha di masjid sekolah. Tapi aku berkilah, aku bilang padanya bahwa aku tidak membawa mukena.
"Di atas pasti ada yang bawa wes," katanya menenangkan. "Nanti pinjem aja... Biasanya temen-temenku bawa. Oiya! Pinjem Erna itu lho. Dia lagi nggak sholat. Tapi biasanya dia selalu bawa, kok. Kata dia males ngeluarin dari tas," lanjutnya. Aku tertegun kali. Dia menghafal dan mengenal teman-temannya dengan baik.
Pernah suatu hari, aku merasa haus sekali. Aku setengah berlari memasuki kelas dan menyambar botol minumku di atas meja. Aku menegaknya hingga hausku terasa tinggal setitik.
"Suzaaasssh, duduk Zash!" tegurnya halus.
"Eh-oh, iyaaa," jawabku kikuk. Aku malu padanya, juga malu pada diriku sendiri. Aku lupa diri. Bahkan adab minum dengan duduk yang seharusnya aku jaga sampai saat ini tidak ku hiraukan. Ternyata masih ada orang baik di muka bumi ini yang mau memperingatkan aku dari akhlak tidak baik itu.
Ada juga kejadian seperti ini...
"Ayo sholat!" ajaknya setelah bel istirahat kedua berbunyi. Aku menggeleng pelan. Sepertinya ia paham dengan maksud gelenganku. Ia akhirnya keluar dengan Kikan, teman sekelasku yang lain, yang kebetulan ingin ke atas juga. "Ya udah, aku sholat dulu yaaa,"
Dia dan Kikan menuju masjid yang letaknya di lantai atas. Sementara aku keluar kelas. Aku membuka permen loli ku yang ku beli di kantin sebagai kembalian beli pulpen. Tiba-tiba ada suara memanggil, "Suzaaaassssh!!!". Aku menoleh, leherku mendongak ke atas untuk melihat siapa yang memanggil. Ternyata dia.
"Ada apaa?" sahutku.
"Permennya itu lhoooo!" teriaknya, sambil tangannya memperagakan orang makan permen loli. Aku terhenyak,"Iyaaa, lupa. Peace!" candaku. Akupun berlalu. Namun permen loliku masih di tangan. Tidak berani ku masukkan mulut karena aku belum menemukan tempat duduk. Untuk kesekian kalinya aku diingatkan. Tapi kali ini akan ku ingat, makan atau minum alangkah lebih baiknya kalau kita melakukannya sambil duduk, tidak berdiri atau bahkan jalan.
Ahh, sekali lagi. Allah tidak pernah salah mempertemukan kita dengan orang-orang yang kita kenal sekarang. Aku selalu bersyukur ketika Allah mempertemukan aku dengan orang yang baru, yang nanti pasti, entah secara langsung atau tidak, akan memberikan pelajaran hidup yang bisa kita petik :)
Thursday, August 16, 2012
Indonesia Raya
Besok dirgahayu Indonesia tercinta. Jadi galau karena besok nggak bisa ikut upacara. *Anak Indonesia yang baik nih*. Ehm. Bukan mau aku ya nggak ikut upacara, tapi realistis ajalah. Aku sudah terlanjur mudik ke Wonosari. Dan ternyata dugaanku meleset jauh. Ayahku yang aku pikir mau-mau aja nganter aku upacara, eh, ternyata enggak mau sama sekali. Aku menelan ludah. Aku terlanjur nggak minta surat pengantar nih. Kepedean bakal bisa ikut upacara. Siap-siap dihukum deh.
"Dulu itu para pejuang, hanya untuk mengibarkan bendera merah putih saja dirasuki rasa takut-takut. Takut di tembak penjajah. Sekarang, kita yang sudah dengan bebas mengibarkan merah-putih, yang tinggal menikmati kemerdekaan, di suruh upacara saja enggan. Di mana letak kecintaan kita pada para pejuang? Di mana letak kecintaan kita terhadap tanah air?"
Itu tutur kata Bu Yuyun, sehari sebelum liburan dimulai di kelasku, pas jam pelajaran PKn tentunya.
Tapi aku tenang-tenang saja. Walaupun aku tahu aku akan dihukum karena tidak ikut upacara, semangat 67 dirgahayu Republik Indonesia tanggal 17 Agustus 2012 besok ini membara sekali. Entah kenapa aku semangat gini. Nggak ngerti juga =="
Hm.
Btw, *agak nggak nyambung sedikit tidak apa-apa ya* waktu aku nulis ini, aku lagi smsan sama Tisnga. Lucu banget. Kita tadinya ngomongin upacara di sekolah dan segala tetek bengek hukumannya (yang suruh minta tanda tangan RT sampai Polsek segala). Ehh, tau-tau kita ngomongin Zuko nih, tokoh di Avatar, The Legend of Aang, yang cakepnya minta ampun itu. Abis itu entah darimana kita sampai Doraemon. Nggak lama kemudian kita sudah ngomongin Conan. Hahaha :) yang pengen aku sampaikan di sini adalah, ternyata kalau dua orang cewek atau lebih berkumpul, mereka akan mengobrol sampai mana-mana. Yang tadi ngomongin hal A, tau-tau udah sampai hal F, ditinggal noleh sebentar tau-tau udah ngobrolin yang lain. Haha..
Aih, malah ngomongin apa. Sudahlah...
Mari kita lantunkan dengan khidmat lagu kebangsaan kita
Indonesia tanah airku, tanah tumpah darahku
Di sanalah aku berdiri, jadi pandu ibuku
Indonesia, kebangsaanku
Bangsa dan tanah airku
Marilah kita berseru Indonesia bersatu
Hiduplah tanahku
Hiduplah negriku
Bangsaku rakyatku
Semuanya
Bangunlah jiwanya
Bangunlah badannya
Untuk Indonesia raya
Indonesia raya merdeka merdeka
Tanahku negriku yang kucinta
Indonesia raya merdeka merdeka
Hiduplah Indonesia Raya
Indonesia raya merdeka merdeka
Tanahku negriku yang kucinta
Indonesia raya merdeka merdeka
Hiduplah Indonesia Raya
Esok hari, kita memperingati hari kemerdekaan Indonesia untuk yang ke 67 tahun. Indonesia sudah 67 tahun merdeka dari penjajahan dalam arti yang sebenarnya. Namun apakah Indonesia benar-benar terbebas dari penjajahan dalam arti yang tersembunyi? Penjajahan intelektual, penjajahan teknologi, penjajahan psikis, dan sebagainya, sesungguhnya kita masih dijajah.
Kita sebagai pemuda Indonesia harus punya semangat untuk itu. Untuk menghapuskan semua penjajahan di atas bumi nusantara ini. Karena itulah kemerdekaan yang sesungguhnya. Bangunlah jiwanya. Bangunlah badannya. Untuk Indonesia Raya.
Kembalilah, putih yang suci, bersih, tanpa noda
Dan merah sebagai sang singa yang berani bertumpah darah
Kami rindu, ketika semua rakyat bangsa ini bersatu
Walau berbeda warna...
Semangat Indonesia! :)
Labels:
Quotes
Friday, August 3, 2012
Golongan Putih
Terkadang kita memposisikan presiden dan pemerintahannya itu selayak raja, yang tinggi dan dihormati. Yang apa-apa dilayani. Yang apa-apa dipatuhi. Namun terkadang kita harus memposisikan pemerintah itu selayaknya pembantu.
Katakanlah negara kita itu rumah mewah tingkat dua. Punya kolam renang. Punya taman. Halamannya luas. Ruang tamunya besar. Ruang keluarga lebar. Kamar tidur delapan. Dapur elit, dan sebagainya. Kita mesti mencari pembantu untuk membantu kita mengurus rumah itu. Kita yang memilih dan menyewa pemabantu. Kita yang mengontrol kerja mereka. Memberikan award jika kerja mereka bagus, dan menghukum mereka jika kerjanya buruk. Tentu saja hukuman itu bukan berupa sulutan rokok dan siraman air panas. Karena kita masih bangsa beradab, diberhentikan saja sudah merupakan hukuman yang lebih dari cukup.
Karena kita sudah tahu kinerja pembantu itu buruk, kita memberhentikannya. Belajar dari pengalaman yang sudah-sudah, kita tidak bakal menyewanya lagi.
Begitu juga dengan bernegara dan memilih pemimpin. Pemimpin itu seperti pembantu. Kita yang memilih dan mengontrol kerja mereka. Kalau mereka bekerja dengan buruk, tidak sesuai dengan apa yang diinginkan rakyat, maka cukuplah sudah. Berhenti. Hukumannya gampang, jangan pilih dia lagi. Itu bukan hukuman yang main-main. Karena kegagalan dalam pemilihan ulang adalah akhir dari karir seorang politikus. Makanya, banyak pemimpin yang berhati-hati belakangan ini. Berhati-hati memelihara janjinya, berhati-hati melakukan pekerjaannya. Mereka takut dihukum rakyat.
Jika tak keberatan, tetaplah memilih. Tetaplah memilih. Karena pilihan anda adalah menentukan seperti apa pendidikan, pelayanan kesehatan, pelayanan kesejahteraan yang akan anak-cucu anda dapatkan.
Labels:
Quotes
Tuesday, July 31, 2012
Sebelum Habis Bulan Juli
Sebelum habis bulan Juli,
Aku akan mengatakan aku bahagia bisa kembali lagi ke sekolah. Aku akan mengatakan aku bahagia bisa bertemu dengan teman-teman yang aku sayangi di sekolahku. Aku akan mengatakan bahwa aku bahagia bisa belajar di sekolahku saat ini. Aku akan mengatakan bahwa aku akan bahagia mengikuti apapun di sekolahku. Aku akan mengatakan bahwa aku mencintai sekolahku. Aku mencintai meja belajarku.
Apapun yang mereka katakan, terserah.
Yang jelas ini sekolahku. Aku heran saja, mengapa mereka malah memperburuk keadaan bukan malah sebaliknya. Sekolah ini memang tidak sehebat sekolah teladan atau manapun yang kau anggap keren lainnya. Sekolahku memang biasa saja. Tapi, berkacalah! Kalau kau anggap sekolah lain lebih keren, lebih bagus, lebih segalanya, dan orang sepertimu pantas berada di sana, pergilah! Cari sekolah yang kau anggap pantas menerima orang sepertimu. Karena sekolah ini tidak butuh orang yang tidak mencintainya! Karena ini sekolah, tempat belajar, tempatmu menemukan banyak ilmu di setiap selanya.
Masalah yang bukan urusanmu di sekolah tinggalkanlah...
Yang kau anggap bukan urusanmu ya jangan di urusi.
Masa depanmu sebenarnya bukan tergantung bagaimana hebatnya sekolahmu, punya nama atau tidaknya sekolahmu, tapi bagaimanakah kamu belajar dengan baik di sekolah kamu. Ambil pelajaran dari kisah laskar pelangi. Punya apa sekolah mereka? Tapi orang-orang hebat seperti Lintang, Ikal, dan kawan-kawan terlahir karena mereka mencintai sekolahnya. Mereka tidak pernah mengeluhkan fasilitas ini-itu, mereka tidak pernah menjelekkan sekolah mereka yang belum punya prestasi sama sekali. Malah justru mereka yang menciptakan kebanggaan dengan sebuah ukiran prestasi mereka.
Itulah yang aku ingin sekali lakukan
Sebelum habis bulan Juli ...
Aku ingin mencintai sekolahku, aku ingin mencintai sekolahku, aku ingin mencintai sekolahku...
Aku akan mengatakan aku bahagia bisa kembali lagi ke sekolah. Aku akan mengatakan aku bahagia bisa bertemu dengan teman-teman yang aku sayangi di sekolahku. Aku akan mengatakan bahwa aku bahagia bisa belajar di sekolahku saat ini. Aku akan mengatakan bahwa aku akan bahagia mengikuti apapun di sekolahku. Aku akan mengatakan bahwa aku mencintai sekolahku. Aku mencintai meja belajarku.
Apapun yang mereka katakan, terserah.
Yang jelas ini sekolahku. Aku heran saja, mengapa mereka malah memperburuk keadaan bukan malah sebaliknya. Sekolah ini memang tidak sehebat sekolah teladan atau manapun yang kau anggap keren lainnya. Sekolahku memang biasa saja. Tapi, berkacalah! Kalau kau anggap sekolah lain lebih keren, lebih bagus, lebih segalanya, dan orang sepertimu pantas berada di sana, pergilah! Cari sekolah yang kau anggap pantas menerima orang sepertimu. Karena sekolah ini tidak butuh orang yang tidak mencintainya! Karena ini sekolah, tempat belajar, tempatmu menemukan banyak ilmu di setiap selanya.
Masalah yang bukan urusanmu di sekolah tinggalkanlah...
Yang kau anggap bukan urusanmu ya jangan di urusi.
Masa depanmu sebenarnya bukan tergantung bagaimana hebatnya sekolahmu, punya nama atau tidaknya sekolahmu, tapi bagaimanakah kamu belajar dengan baik di sekolah kamu. Ambil pelajaran dari kisah laskar pelangi. Punya apa sekolah mereka? Tapi orang-orang hebat seperti Lintang, Ikal, dan kawan-kawan terlahir karena mereka mencintai sekolahnya. Mereka tidak pernah mengeluhkan fasilitas ini-itu, mereka tidak pernah menjelekkan sekolah mereka yang belum punya prestasi sama sekali. Malah justru mereka yang menciptakan kebanggaan dengan sebuah ukiran prestasi mereka.
Itulah yang aku ingin sekali lakukan
Sebelum habis bulan Juli ...
Aku ingin mencintai sekolahku, aku ingin mencintai sekolahku, aku ingin mencintai sekolahku...
Labels:
Quotes
Monday, July 9, 2012
Salam Perjuangan
Hidup = Perjuangan
Oke. Mungkin jargon itu pasaran. Siapapun bisa mengucapkan itu. Siapapun nulis itu gede-gede di notebooknya. Di tempel di mana-mana. Di jadikan slogan di berbagai acara. Di jadikan moral di setiap cerita. Dijadikan pidato di setiap upacara. Semua tahu jargon ini. Jargon pasaran.
Tapi coba jargon itu dibold, diitalic, diunderline sekalian. Diperjelas. Cobalah pahami kata-kata itu. Hidup = perjuangan.
Perjuangan kita dalam hidup itu nggak akan pernah berhenti. Orang sering menyalah artikan. Dari awal kita melihat dunia, kita sudah berjuang. Berjuang untuk hidup. Berjuang untuk menyerap bahasa ibu. Berjuang untuk memahami kata demi kata. Tumbuh sedikit, kita berjuang untuk bergerak. Kita berjuang untuk berjalan. Kita berjuang untuk berbicara. Kita berjuang untuk bisa makan. Kita berjuang untuk bisa bergaul juga. Simpel emang kelihatannya. Semua orang bisa. Tapi itu perjuangan. Perjuangan. Itu berat.
Dan perjuangan masih terus berjalan...
Habis ini kita masih berjuang. Kita lulus sekolah, masuk SMA favorit. Bagus, SMA favorit. Bangga. Tapi jangan membuat kebanggaan kita menjadi sesuatu yang berlebihan. Setelah di SMA, kita masih harus berjalan. Masih harus belajar lagi. Setelah kelas satu terlewati, juara. Iya, juara. Melewati penjurusan. Masuk jurusan yang sudah sesuai dengan apa yang kita inginkan. Tapi apa sudah berhenti perjuangan kita? Belum. Masih panjang. Masih harus berjuang lagi. Masih terus untuk mempertahankan prestasi kita. Masih terus berjuang lagi.
Kelas tiga, masih berjuang lagi kita kan? Untuk menghadapi sebuah ujian nasional. Setelah lulus, apakah patut kita hura-hura? Perjuangan kita masih belum berhenti.
Katakanlah kita bisa diterima di Perguruan Tinggi Negri favorit,
Apakah kita sudah puas dengan itu? Kita masih terus berjuang untuk belajar. Menuntut ilmu setinggi-tingginya. Lalu katakanlah kita sudah bisa lulus dengan IP tertinggi..
Kemudian apakah kita merasa cukup dengan itu? Tidak ternyata. Kita masih terus harus berjuang untuk memperjuangkan kehidupan kita. Kita masih harus mencari pekerjaan, meniti karir, dan lain-lain.
Katakanlah kita sudah mendapatkan pekerjaan yang layak, dan karir yang menjanjikan..
Lalu apakah kita merasa puas dengan itu? Tidak juga ternyata. Kita masih harus terus mempertahankan bahkan meningkatkan karir kita ke arah yang lebih baik.
Semua itu perjuangan...
Selama kita masih hidup, perjuangan kita tidak akan pernah berhenti.
Salam perjuangan :)
Mari kita melangkah ke arah yang lebih unyu!
Labels:
Quotes
Wednesday, June 27, 2012
Jika Suatu Hari Nanti...
Jika suatu hari nanti,
Pucuk hatiku sampai dasar-dasarnya sudah terlalu sering diremukkan
Hingga mungkin saja mati rasa bisa terjadi
Namun percayalah..
Walaupun aku mati rasa sekalipun
Rasa untukmu masih tetap akan ada...
Jika suatu hari nanti..
Otakku sudah terolang-aling dengan ribuan kebingungan
Hingga mungkin saja ingatan ini akan hilang
Namun percayalah...
Walaupun nanti ingatan di otakku hilang sekalipun
Aku masih punya memori denganmu yang ku ingat dengan hati
Jika suatu hari nanti...
Aku sudah tak terkendali lagi,
Hingga mungkin saja aku sudah tak kenal diri sendiri
Namun percayalah..
Walaupun nanti aku tidak bisa mengenalmu lagi
Aku masih akan tetap
Merasaimu dengan nanar dalam sorot mata ini
Labels:
Quotes
Saturday, June 16, 2012
Aku Ingin Seperti Titik
Titik tak pernah berkata pada koma bahwa ia akan mengakhiri perangkai apik huruf-hurufnya. Namun sang empunya huruf tahu, titik pasti akan mengakhirinya.
Seperti ini.
Seperti ini.
Seperti ini.
Letaknya tegas, tak pernah terbantah.
Aku ingin seperti titik. Kadang aku ingin tegas berkata tidak padamu. Kadang aku ingin menolak pintamu secara lugas. Kadang aku ingin aku terlihat lebih kuat sedikit di depanmu. Tak semata-mata tunduk pada semua katamu…
Aku ingin seperti titik, yang bisa mengakhiri dan menegasi.
Labels:
Quotes
Sunday, June 3, 2012
Leleh
Ketika ini sudah disebut malam…
Aku yang meleleh, semakin melelehkan diriku sendiri
Di pojok ruangan tua itu, aku bertempat
Aku meleleh seleleh-lelehnya..
Ketika ini sudah disebut malam..
Aku terbujur dengan kelelehanku,
Lebur dengan angin sayu malam ini
Sedetikpun aku tak bisa mengendalikan ini
Aku tak bisa mengenali derai lukaku sendiri
Ini seperti bukan aku
Yang meleleh,
Karena ada api di dekatku, memanasi, hingga leleh diriku . . .
Posted by
Suzash G. Rabbani
at
11:31 PM
0
comments
Email This
BlogThis!
Share to X
Share to Facebook
Labels:
Quotes
Saturday, May 19, 2012
Setiap Kesulitan Pasti Ada Kemudahan
أَلَمْ نَشْرَحْ لَكَ صَدْرَكَ
Bukankah Kami telah melapangkan dada untukmu?
وَوَضَعْنَا عَنكَ وِزْرَكَ
Dan mengangkat bebanmu dari (pundak)m
الَّذِي أَنْقَضَ ظَهْرَكَ
Yang telah memberatkan punggungmu?
وَرَفَعْنَا لَكَ ذِكْرَكَ
dan meninggikan untukmu sebutan kamu?
فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا
Karena sesungguhnya bersama kesulitan pasti ada kemudahan.
إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا
Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan
فَإِذَا فَرَغْتَ فَانصَبْ
Maka jika engkau sudah bebas, tetaplah bekerja keras!
وَإِلَى رَبِّكَ فَارْغَبْ
Dan jadikanlah Tuhanmu sebagai tujuan (kerinduanmu) semata
Labels:
Quotes
Belum Sepersepuluh Cinta Ibu
"Rasa sayang, cinta kasih, pengorbanan, dan segala yang dilakukan ibumu yang sudah engkau ketahui, sejatinya belumlah sepersepuluhnya..."
Bukan semata-mata penghormatan semata kepada wanita yang dielu-elukan dimana-mana. Tulisan-tulisan itu sebenarnya tidak perlu ada. Segala omong kosong tentang ibu sebenarnya tidak perlu ditulis lagi di dunia ini, kalau hasilnya sama saja.
Sadarlah,
Kenyataan ibumu menggendongmu ketika kau menangis, kenyataan beliau selalu bangun malam ketika kau berteriak terisak kehausan, kenyataan dia mengelus-elus kepalamu dengan sayang ketika kau hendak tidur, kenyataan beliau mengobati sakitmu ketika kau terbaring, kenyataan beliau selalu bangun pagi hanya agar kau bisa makan dahulu sebelum berangkat ke sekolah, kenyataan beliau harus mencuci pakaianmu dan kau hanya tahu pakaian kotor dilempar dan tau tau sudah siap di lemari. Kenyataan bahwa beliau selalu makan terakhir hanya agar kau makan dulu. Kenyataan bahwa beliau selalu memberikan pelukan terhangat ketika kau jatuh, dan masih banyak kenyataan kenyataan lain dan itu belum sepersepuluh dari pengorbanan swanita hebat itu...
Sadarlah...
Bahwa laki-laki yang tak menghormati perempuan, sama saja ia tak menghormati ibunya.
Feedjit
Anda Pengunjung Ke -
About Me
- Suzash G. Rabbani
- Yogyakarta, Indonesia
- I am seventeen years old, and last grade in senior high school. Part of XII-Social-One. I love story, I love my friends a lot. I'm very happy cause now I have so many friends here... :-)
Followers
My Account
What Time Is It Now ?
Powered by Blogger.
